Tari Wura Bongi Monca adalah tarian tradisional khas masyarakat Mbojo (Bima), Nusa Tenggara Barat, yang berfungsi sebagai tarian penyambutan tamu. Nama tarian ini berasal dari bahasa Bima, yaitu:
Wura = menabur
Bongi = beras
Monca = kuning
Sehingga Wura Bongi Monca berarti "menabur beras kuning", yaitu simbol penghormatan, doa, dan harapan baik bagi tamu yang datang. (Jurnal ISI Yogyakarta)
Tradisi menaburkan beras kuning telah ada sejak masa Kesultanan Bima sebagai cara menyambut tamu kehormatan. Pada tahun 1968, tradisi tersebut kemudian dikembangkan menjadi sebuah tarian oleh Siti Maryam R. Salahuddin, putri Sultan Bima, agar lebih mudah dipentaskan sebagai bagian dari pelestarian budaya. (Jurnal ISI Yogyakarta)
Ditarikan oleh 4–6 penari perempuan atau lebih.
Penari mengenakan busana adat Bima yang anggun dan berwarna cerah.
Gerakan tari dilakukan dengan lemah lembut, anggun, dan serempak.
Selama menari, para penari menaburkan beras kuning ke arah tamu sebagai simbol penghormatan dan doa.
Tarian diiringi musik tradisional Bima yang menciptakan suasana sakral dan meriah. (IDN Times NTB)
Tari Wura Bongi Monca mengandung berbagai nilai penting, yaitu:
Penghormatan kepada tamu yang datang.
Doa dan harapan agar tamu memperoleh keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan.
Keramahtamahan masyarakat Bima dalam menyambut tamu.
Pelestarian budaya, sebagai identitas masyarakat Mbojo.
Kebersamaan dan persaudaraan, karena tarian ini mempererat hubungan antarmasyarakat. (Jurnal ISI Yogyakarta)
Menggunakan beras kuning sebagai simbol utama dalam tarian.
Ditampilkan khusus untuk menyambut tamu penting, acara adat, pernikahan, dan festival budaya.
Gerakannya lembut, anggun, dan penuh makna.
Menjadi salah satu ikon seni budaya masyarakat Bima yang masih sering dipentaskan hingga sekarang. (IDN Times NTB)
Tari Wura Bongi Monca merupakan tarian penyambutan tamu khas Bima yang melambangkan penghormatan, doa, dan keramahan masyarakat Mbojo. Dengan gerakan yang anggun dan tradisi menaburkan beras kuning, tarian ini menjadi salah satu warisan budaya penting yang terus dilestarikan sebagai identitas budaya Bima. (Jurnal ISI Yogyakarta)