Uma Lengge adalah rumah adat tradisional masyarakat Bima dan Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Bangunan ini memiliki bentuk yang unik dengan atap menjulang tinggi berbentuk kerucut atau limas, serta terbuat dari bahan-bahan alami seperti kayu, bambu, alang-alang, dan ijuk. Selain berfungsi sebagai tempat tinggal, Uma Lengge juga digunakan sebagai lumbung penyimpanan hasil panen, terutama padi dan jagung.
Memiliki atap tinggi berbentuk kerucut atau limas yang menjadi ciri khasnya.
Dibangun menggunakan kayu, bambu, alang-alang, dan ijuk, sehingga ramah lingkungan.
Berdiri di atas tiang-tiang kayu (rumah panggung) untuk melindungi bangunan dari kelembapan, banjir, dan gangguan hewan.
Memiliki tangga dari kayu untuk menuju bagian dalam rumah.
Uma Lengge umumnya terdiri atas beberapa bagian:
Bagian bawah digunakan untuk memelihara ternak atau menyimpan peralatan pertanian.
Bagian tengah dimanfaatkan sebagai tempat tinggal atau tempat beraktivitas keluarga.
Bagian atas digunakan sebagai lumbung penyimpanan padi agar tetap kering dan tahan lama.
Sebagai tempat tinggal masyarakat pada masa lalu.
Sebagai lumbung penyimpanan hasil panen untuk menjaga ketahanan pangan.
Sebagai simbol kehidupan masyarakat agraris yang bergantung pada pertanian.
Sebagai warisan budaya yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Bima dan Dompu.
Uma Lengge memiliki nilai budaya yang tinggi, antara lain:
Gotong royong, karena pembangunannya dilakukan bersama-sama oleh masyarakat.
Kearifan lokal, melalui pemanfaatan bahan bangunan alami dan teknik konstruksi tradisional.
Pelestarian budaya, karena bentuk dan fungsinya diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketahanan pangan, karena berfungsi menjaga hasil panen tetap aman dan tahan lama.
Saat ini, Uma Lengge menjadi salah satu objek wisata budaya di Bima dan Dompu. Wisatawan dapat melihat secara langsung arsitektur tradisional, mempelajari kehidupan masyarakat lokal, serta menikmati berbagai kegiatan budaya yang sering diselenggarakan di kawasan tersebut.
Kesimpulan:
Uma Lengge merupakan rumah adat sekaligus lumbung tradisional masyarakat Bima dan Dompu yang memiliki arsitektur khas berbentuk kerucut. Bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal dan penyimpanan hasil panen, tetapi juga menjadi simbol kearifan lokal, ketahanan pangan, dan identitas budaya masyarakat NTB yang masih dilestarikan hingga sekarang.